BBI, KULON PROGO | Cara siswa mengambil dan menghabiskan makanan menjadi salah satu hal yang dievaluasi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Muhammadiyah Bantar, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sekolah di Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, tersebut mencoba pola penyajian prasmanan pada 5-16 Oktober 2026. Lewat metode ini, siswa menentukan sendiri jumlah makanan yang hendak dikonsumsi, termasuk ketika ingin mengambil tambahan.
Penanggung jawab MBG SD Muhammadiyah Bantar, Dian Yuniarti, melihat perubahan respons siswa sejak metode tersebut dicoba. Kesempatan memilih porsi dinilai membuat anak-anak lebih tertarik saat waktu makan tiba.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tadi ada yang mengambil lagi. Anak biasanya tidak nambah sahur, paling yang nambah nasi atau nambah lauk itu,” kata Dian saat dihubungi melalui telepon, Jumat (9/10/2026).
Bagi sekolah, persoalannya bukan semata-mata bagaimana makanan dibagikan, melainkan bagaimana hidangan yang disediakan benar-benar dikonsumsi. Dengan mengambil makanan berdasarkan kebutuhan, siswa diharapkan tidak menyisakan terlalu banyak makanan di piring.
Kebiasaan baru ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran di luar kegiatan akademik. Anak-anak berlatih menentukan porsi, bersabar menunggu giliran, dan menjaga keteraturan selama pelayanan makan berlangsung.
Uji coba tersebut melibatkan 47 siswa kelas V dan VI. Sementara itu, murid kelas I hingga IV masih menerima makanan melalui wadah omprengan.
Pelayanan dimulai pada pukul 09.00 WIB, mengikuti jadwal istirahat sekolah. Lima siswa secara bergantian membantu membagikan makanan kepada teman-temannya, dengan pendampingan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Pada pelaksanaan hari ini ada pihak SPPG yang mendampingi sementara ini,” kata Dian.
Keterlibatan siswa dalam proses penyajian juga disertai penerapan perlengkapan kebersihan. Mereka menggunakan penutup kepala, masker, sarung tangan karet, dan celemek ketika menjalankan tugas.
Pada hari uji coba yang dilaporkan, menu MBG mencakup nasi nori, tempe goreng, telur ceplok, tumis sayur, dan anggur.
Namun, sistem yang memberikan keleluasaan kepada siswa ini membutuhkan penataan layanan yang berbeda. Sekolah harus menyediakan tempat khusus untuk meletakkan hidangan dan memastikan pergerakan siswa tidak menyebabkan antrean mengular.
Dibandingkan pembagian menggunakan omprengan, prasmanan memerlukan pengaturan tambahan sebelum makanan dapat dinikmati. Karena itu, kemudahan siswa mengambil makanan sendiri harus diimbangi dengan kesiapan fasilitas dan petugas pendamping.
Dian berharap percobaan ini menghasilkan pola pelayanan yang lebih tepat bagi pelaksanaan MBG di sekolahnya. Selain memudahkan siswa memperoleh makanan sesuai kebutuhan, sistem tersebut diharapkan membangun kebiasaan tertib dan mengurangi makanan yang terbuang.
Hasil evaluasi selama dua pekan akan menjadi bahan pertimbangan untuk melihat sejauh mana metode prasmanan dapat diterapkan secara efektif. (tn/mh)
Penulis : Hasan Lintang
Editor : El Farhan
Sumber Berita: barubaruini.com














Komentar