Sembilan Nelayan Sumenep Pulang dari Australia, Denda Belum Jelas

Pemkab Sumenep menyiapkan penjemputan dari Bali menuju Pulau Raas melalui Pelabuhan Jangkar, Situbondo. Persoalan kemungkinan denda masih menjadi kewenangan Kementerian Luar Negeri.

- Penulis

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:40 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

DIAMANKAN. Setelah melalui proses penanganan pemerintah, kesembilan nelayan tersebut kini berada di Denpasar, Bali, dan dijadwalkan dipulangkan ke Sumenep melalui Pelabuhan Jangkar, Situbondo, pada Minggu (25/10/2026). (Istimewa/Redaksi BBI/Sumenep)

DIAMANKAN. Setelah melalui proses penanganan pemerintah, kesembilan nelayan tersebut kini berada di Denpasar, Bali, dan dijadwalkan dipulangkan ke Sumenep melalui Pelabuhan Jangkar, Situbondo, pada Minggu (25/10/2026). (Istimewa/Redaksi BBI/Sumenep)

BBI, SUMENEP | Kepulangan sembilan nelayan asal Desa Tonduk, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang sempat diamankan otoritas Australia, kini memasuki tahap persiapan perjalanan menuju kampung halaman.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep menjadwalkan penjemputan mereka di Denpasar, Bali, pada Minggu (25/10/2026).

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Sumenep, R. Abd. Rahman Riadi, menyampaikan bahwa proses penjemputan melibatkan tim pemerintah daerah bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Insya Allah, mereka sekarang ada di Denpasar, Bali. Itu tim Pemkab, dari Dinsos P3A, Baznas, juga dari Pemkab lah, akan menjemput di Bali, ke sembilan orang,” kata Rahman, Jumat (23/10/2026).

Setelah dijemput, para nelayan akan menempuh perjalanan darat dari Denpasar menuju Pelabuhan Jangkar, Kabupaten Situbondo. Dari pelabuhan tersebut, perjalanan dilanjutkan melalui jalur laut menuju Pulau Raas.

Pemkab Sumenep akan memfasilitasi kebutuhan transportasi selama perjalanan tersebut agar para nelayan dapat kembali ke daerah asal.

BACA JUGA  Nusantara Transindo Garap Pasar Travel dan Logistik Antarkota

“Dipulangkan via darat melalui pelabuhan jangkar nanti. (Pelabuhan) Jangkar nanti ke Raas. Nanti kita fasilitasi angkutannya, travelnya. Dari Bali menuju pelabuhan Jangkar. Jangkar terus menuju ke Raas,” ungkapnya.

Jadwal keberangkatan itu masih bergantung pada proses pemulangan dua nelayan lainnya. Keduanya diperkirakan tiba di Bali pada Sabtu (24/10/2026). Jika sesuai rencana, rombongan akan diberangkatkan menuju Sumenep sehari kemudian.

“Itu Insya Allah karena masih ada dua orang yang masih dalam proses pemulangan, kita nunggu yang dua orang. Insya Allah Sabtu sudah sampai di Bali, hari minggu berangkat dari Denpasar, Bali, menuju ke pelabuhan Jangkar Situbondo,” ujarnya.

Rahman mengatakan, proses pemulangan berlangsung melalui koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Menurut dia, komunikasi antarpemerintah menjadi jalur utama untuk menangani persoalan warga negara Indonesia yang diamankan di luar negeri.

“Kita melakukan kerjasama dengan Kemenlu ya, karena itu urusannya dari pemerintah. Goverment to Goverment, sehingga komunikasinya dengan Kementerian Luar Negeri bagus, mereka dipulangkan. Posisinya ada di Bali sekarang,” katanya.

BACA JUGA  Dua Tahun Prabowo-Gibran, Demonstrasi Meluas dari Jakarta hingga Aceh

Meski kepulangan para nelayan mulai dipersiapkan, persoalan kemungkinan denda masih berada di luar kewenangan pemerintah daerah. Rahman menjelaskan, hal tersebut menjadi urusan Kemenlu melalui komunikasi dengan pemerintah Australia.

“Itu kewenangan Kemenlu, Kementerian Luar Negeri. Jadi duta besar yang ada di Australia mungkin sudah komunikasi dengan Pemerintah Australia untuk bisa melepaskan warga negara Indonesia yang berasal dari Kabupaten Sumenep,” ungkapnya.

Ia menegaskan, tanggung jawab Pemkab Sumenep dalam proses ini terbatas pada fasilitasi perjalanan para nelayan hingga kembali ke daerah asal. Adapun urusan diplomatik dan komunikasi mengenai pembebasan mereka ditangani pemerintah pusat.

“Pemkab hanya bagian pemulangan. Teknis komunikasinya, goverment to goverment. Antar Kementerian Luar Negeri,” ujarnya.

Sementara itu, kabar mengenai 13 nelayan Sumenep lain yang disebut turut diamankan otoritas Australia belum masuk dalam data yang diterima Dinsos P3A. Rahman mengatakan, pihaknya baru memperoleh informasi terdata mengenai sembilan nelayan.

BACA JUGA  Penemuan Bara Api di Bawah Tanah Ungkap Ancaman Kebakaran Gambut Kalimantan

“Saya belum dengar yang 13 (nelayan). Yang sudah masuk data-datanya ada sembilan,” katanya.

Sembilan nelayan tersebut diamankan otoritas Australia pada September 2026. Mereka merupakan awak KM Rukun Desa yang dinakhodai Mupaher, bersama delapan anak buah kapal (ABK), yakni Hairi, Aes, Rudi, Hamsu, Heri, Beging, Ulum, dan Sahidi.

Mereka diduga melakukan pencarian teripang dan hiu untuk diambil siripnya di wilayah Northern Territory, Australia. Setelah diamankan, rombongan dibawa ke Darwin dan tiba pada 28 September 2026.

Pada 30 September 2026, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Darwin mendatangi para nelayan untuk memberikan akses kekonsuleran.

Setelah melalui proses penanganan dan koordinasi pemerintah, sembilan nelayan itu kini berada di Bali untuk menunggu kepulangan ke Sumenep. Pemkab menyiapkan jalur perjalanan melalui Situbondo sebelum mereka menyeberang ke Pulau Raas. (ef/mh)

Penulis : Hasan Lintang

Editor : El Farhan

Sumber Berita: barubaruini.com

Follow WhatsApp Channel barubaruini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Demonstrasi Meluas dari Jakarta hingga Aceh
Serpihan Roket China Ditemukan Lagi di Kebun Sawit Kotim
Asap Karhutla Selimuti Tanjung Puting, Wisatawan Terpaksa Bermasker
Asap Karhutla Selimuti IKN, Istana Garuda Nyaris Hilang dari Pandangan
Ratusan Siswa di Konawe Selatan Keracunan Usai Santap MBG, Sampel Makanan Diperiksa
Hari Tanpa Bayangan Terjadi di Malang Hari Ini, BMKG Luruskan Isu Pancaroba
The Joy of Solo Travel: Tips and Inspiration for Adventuring Alone

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:40 WIB

Sembilan Nelayan Sumenep Pulang dari Australia, Denda Belum Jelas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 05:12 WIB

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Demonstrasi Meluas dari Jakarta hingga Aceh

Rabu, 21 Oktober 2026 - 04:51 WIB

Serpihan Roket China Ditemukan Lagi di Kebun Sawit Kotim

Jumat, 16 Oktober 2026 - 08:59 WIB

Asap Karhutla Selimuti Tanjung Puting, Wisatawan Terpaksa Bermasker

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:30 WIB

Asap Karhutla Selimuti IKN, Istana Garuda Nyaris Hilang dari Pandangan

Berita Terbaru