Menakar Beban Moral MH Said Abdullah dalam Kasus Kematian Pasien BHC Sumenep

Catatan: Ketika nama besar politisi senayan diuji oleh akuntabilitas medis di daerah.

- Penulis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:45 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SIMBOLIS. MH Said Abdullah saat membuka kegiatan RS BHC Run jadi agenda tahunan, perkuat ekonomi kerakyatan pada 8 Februari 2026 lalu. (Istimewa/Redaksi BBI/Kolom)

SIMBOLIS. MH Said Abdullah saat membuka kegiatan RS BHC Run jadi agenda tahunan, perkuat ekonomi kerakyatan pada 8 Februari 2026 lalu. (Istimewa/Redaksi BBI/Kolom)

BBI, KOLOM | Bagi masyarakat Sumenep, nama MH Said Abdullah bukanlah figur biasa. Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI ini adalah patron politik dengan pengaruh yang menggurita di Madura.

Maka, ketika ia menginisiasi berdirinya Rumah Sakit Baghraf Health Care (RS BHC) di Jalan Lingkar Barat, Babbalan, publik melihatnya sebagai manifestasi kepedulian sang politisi kawakan untuk memajukan tanah kelahirannya.

BHC bukan sekadar rumah sakit, ia adalah simbol prestise, kemegahan, dan janji pelayanan kesehatan modern setara hotel berbintang milik “orang kuat” Madura.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, pertengahan Oktober 2026 ini, kemegahan simbolis itu mendadak luruh. Di balik dinding mentereng BHC, sebuah tragedi kemanusiaan pecah dan langsung mengarah pada satu muara, sejauh mana nama besar Said Abdullah mampu menjamin keselamatan rakyat kecil yang memercayakan nyawanya di sana?

Kematian tragis Moh. Firman Ramadhani (22), pemuda asal Desa Lenteng Timur, menjadi lonceng peringatan keras bagi manajemen rumah sakit bentukan politisi PDI Perjuangan tersebut.

BACA JUGA  Asap Karhutla Selimuti IKN, Istana Garuda Nyaris Hilang dari Pandangan

Kronologi yang diungkap keluarga begitu menyayat hati sekaligus janggal. Firman yang sempat dinyatakan membaik dan siap pulang pada Selasa (13/10/2026), justru kejang-kejang, mengeluarkan busa dari mulut, lalu meninggal dunia sesaat setelah menerima suntikan dari petugas medis pagi itu.

Insiden ini diperparah oleh hilangnya video protes keluarga dari media sosial, memicu kecurigaan publik akan adanya upaya pembungkaman menggunakan pengaruh kekuasaan.

Di sinilah letak relevansi nama Said Abdullah. Sebagai pemilik dan inisiator utama, ia tidak bisa memisahkan dirinya dari operasional BHC. Ketika rumah sakit ini menuai pujian, nama Said ikut melambung.

BACA JUGA  IPNU Sumenep Desak Pengawasan Kades Diperketat Usai Dua Pejabat Desa Ditangkap

Sebaliknya, ketika ada dugaan malapraktik atau kelalaian fatal yang merenggut nyawa warga lokal, beban moral dan politik secara otomatis runtuh ke pundaknya.

Publik tidak hanya melihat dr. Tedjo Wahyu Putranto sebagai direktur, atau perawat yang menyuntik korban, publik melihat institusi ini sebagai representasi dari Said Abdullah itu sendiri.

Manajemen RS BHC memang telah menunjukkan iktikad baik dengan bertakziah, meminta maaf, dan memberikan santunan kepada keluarga Firman.

Namun, dalam hukum medis dan kemanusiaan, santunan finansial tidak bisa menukar akuntabilitas ilmiah. Yang dicari oleh keluarga korban dan masyarakat Sumenep saat ini adalah transparansi.

Apa isi suntikan itu? Mengapa reaksi tubuh pasien begitu fatal? Apakah ada pelanggaran SOP atau ketidakkompetenan tenaga medis?

Said Abdullah, yang selama berkarier di Jakarta dikenal vokal menyuarakan anggaran untuk kesejahteraan rakyat, kini menghadapi ujian nyata di halaman rumahnya sendiri.

BACA JUGA  Keluarga Firman Uji Tanggung Jawab BHC Sumenep jika Ditemukan Kesalahan Medis

Tragedi kematian Firman alias Deni menuntut sang politisi untuk tidak tinggal diam atau sekadar menyerahkan urusan ini pada urusan “manajemen internal”.

Jika Said Abdullah ingin menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat Madura yang telah membesarkan namanya, ia harus memastikan RS BHC membuka kasus ini secara terang-benderang tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Kasus ini harus diusut secara hukum dan medis secara objektif. Tanpa adanya transparansi total, kemegahan RS BHC hanya akan dikenang sebagai menara gading yang indah di luar, namun menyimpan kerapuhan fatal di dalam yang mengorbankan rakyat kecil. (ef/mh)

Penulis : Tony F

Editor : El Farhan

Sumber Berita: barubaruini.com

Follow WhatsApp Channel barubaruini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nyawa Pasien Hilang, Penjelasan Direktur RS BHC dan Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ikut Hilang
Karangan Bunga untuk Bupati Klaten Tersangka OTT KPK, Warga Mengaku Terkejut
MH Said Abdullah Panggil Manajemen RS BHC, Kematian Pasien BPJS Belum Terjawab
Dinkes P2KB Sumenep Belum Buka Hasil Tindak Lanjut Kasus Pasien BPJS Meninggal di RS BHC
Pasien BPJS Meninggal di BHC Sumenep, Kapan Hasil Investigasi Dibuka?
Ribuan Warga Hadiri JJS Politik Sumenep, Mayoritas Anggota DPRD Absen
IPNU Sumenep Desak Pengawasan Kades Diperketat Usai Dua Pejabat Desa Ditangkap
BHC Sumenep Berlindung di Balik SOP, Zamrud Khan Ragukan Objektivitas Investigasi Internal RS

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:10 WIB

Nyawa Pasien Hilang, Penjelasan Direktur RS BHC dan Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ikut Hilang

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:42 WIB

MH Said Abdullah Panggil Manajemen RS BHC, Kematian Pasien BPJS Belum Terjawab

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:23 WIB

Dinkes P2KB Sumenep Belum Buka Hasil Tindak Lanjut Kasus Pasien BPJS Meninggal di RS BHC

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:39 WIB

Pasien BPJS Meninggal di BHC Sumenep, Kapan Hasil Investigasi Dibuka?

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:04 WIB

Ribuan Warga Hadiri JJS Politik Sumenep, Mayoritas Anggota DPRD Absen

Berita Terbaru

PROFIL. Helen Haines, anggota parlemen independen Australia yang mewakili daerah pemilihan Indi di Victoria. Mantan perawat dan peneliti kesehatan masyarakat ini dikenal memperjuangkan integritas politik serta pembentukan lembaga antikorupsi nasional. (Istimewa/Redaksi BBI/Australia)

Internasional

Helen Haines Ditabrak Mobil, PM Australia Duga Serangan Sengaja

Selasa, 20 Okt 2026 - 09:08 WIB

PROFIL. Anggota Komisi VIII DPR, Maman Imanulhaq, mendesak pemerintah Azerbaijan mencabut larangan jilbab dan menghormati kebebasan perempuan Muslim dalam menjalankan keyakinan agamanya. (Istimewa/Redaksi BBI/Jakarta)

Pendidikan

Maman Imanulhaq Desak Azerbaijan Cabut Larangan Jilbab

Selasa, 20 Okt 2026 - 05:33 WIB