BBI, JAKARTA | Candi Prambanan disiapkan menjadi lebih dari sekadar tujuan wisata sejarah. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ingin menjadikan kompleks candi Hindu tersebut sebagai ruang perjumpaan budaya, pembelajaran, dan spiritualitas yang terbuka bagi masyarakat lintas latar belakang melalui Prambanan Shiva Festival 2027.
Festival ini menjadi salah satu upaya pemerintah memperluas daya tarik Prambanan di tengah meningkatnya minat wisata berbasis pengalaman budaya dan perjalanan spiritual. Peluncurannya dilakukan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Ni Luh mengatakan, Prambanan memiliki nilai historis dan spiritual yang membuatnya penting untuk terus dirawat. Kompleks candi tersebut telah masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 1991, dengan keunggulan arsitektur dan warisan peradaban yang masih dapat dinikmati hingga sekarang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Prambanan adalah salah satu situs warisan dunia UNESCO yang sudah ditetapkan oleh UNESCO sejak 1991. Dan Prambanan ini menyimpan kekayaan sejarah, keagungan arsitektur, serta nilai spiritual yang terus hidup dan dirawat hingga hari ini,” ujar Ni Luh.
Menurut dia, tantangan pengembangan Prambanan bukan hanya menjaga bangunan bersejarah, melainkan juga memastikan nilai-nilai yang melekat di dalamnya tetap hidup. Sejarah panjang pemugaran candi, setelah mengalami keruntuhan dan terlupakan selama berabad-abad, menjadi bagian penting dari perjalanan situs tersebut.
“Kita tidak ingin Prambanan ini menjadi hanya sekadar sebagai monumen, tetapi dia harus menjadi monumen yang hidup, yang bisa menjadi ruang edukasi dan juga ruang spiritual. Prambanan tentu sudah melewati perjalanan yang panjang. Ia pernah runtuh, kemudian terlupakan berabad-abad, lalu dipugar batu demi batu dengan kesabaran yang luar biasa. Dan kini, kita bersama-sama bisa menyaksikan Prambanan kembali hidup sebagai tempat suci,” papar dia.
Pemerintah juga ingin memperluas kesempatan masyarakat untuk mengenal tradisi keagamaan yang berlangsung di kawasan tersebut. Sejumlah kegiatan, seperti Tawur Agung dan Shivaratri atau Siwaratri, selama ini menjadi bagian dari aktivitas spiritual umat Hindu di Prambanan.
Ni Luh menilai, kegiatan semacam itu memiliki potensi lebih luas sebagai sarana pengenalan budaya. Karena itu, penyelenggaraannya perlu dikembangkan tanpa menghilangkan makna sakral bagi umat yang menjalankannya.
“Dalam rangka menghidupkan nilai spiritual di Prambanan ini, ada banyak sekali rangkaian keumatan Hindu yang dilakukan di sana. Mulai dari Tawur Agung, yang ini juga sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir dan menjadi ruang berkumpul bagi umat Hindu di wilayah Prambanan. Kemudian juga perayaan Siwaratri, ini juga sudah kita lakukan dalam beberapa tahun terakhir,” tutur Ni Luh.
Ia menegaskan, keterbukaan dalam pengenalan tradisi bukan berarti menjadikan ritual keagamaan sebagai komoditas semata. Sebaliknya, masyarakat diharapkan semakin memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya sehingga tumbuh kepedulian untuk menjaga kelestarian candi.
“Dan sekarang kita ingin memperluasnya, karena tentu saja kita tidak ingin ini terlalu eksklusif. Kita ingin ini menjadi ruang yang lebih inklusif, bukan karena kita ingin mengobral, tetapi karena kita ingin semua orang tahu, semua orang mengerti, semua orang memahami, sehingga semua orang mencintai dan semua orang akhirnya turut merawat ruang atau tempat yang begitu indah, begitu agung, Candi Prambanan,” jelas dia.
**Membidik Tren Wisata Berbasis Pengalaman**
Pengembangan Prambanan Shiva Festival 2027 juga diarahkan untuk menangkap perubahan minat wisatawan. Kemenpar mengacu pada Global Wellness Economy Monitor 2025 yang mencatat meningkatnya ketertarikan terhadap pengalaman yang menghubungkan wisatawan dengan budaya lokal, alam, ziarah, dan kegiatan pemulihan diri melalui perjalanan spiritual.
Sementara itu, Indonesia Tourism Outlook 2026–2027 menempatkan pariwisata berbasis acara atau *event tourism* sebagai salah satu tren utama perjalanan di Indonesia.
Peluang tersebut ditopang oleh pertumbuhan mobilitas wisatawan. Pada Januari-Agustus 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842,15 juta kunjungan, meningkat 4,29 persen. Adapun kunjungan wisatawan mancanegara tercatat sebanyak 10,58 juta, tumbuh 5,38 persen.
Pasar India turut menjadi sasaran potensial. Jumlah wisatawan dari negara tersebut meningkat dari 606.439 kunjungan pada 2023 menjadi 734.490 kunjungan pada 2025.
Untuk menggarap peluang itu, Kemenpar menyiapkan Prambanan Shiva Festival 2027 sebagai tambahan produk wisata yang memadukan agenda budaya dan keagamaan. Festival bertajuk “The Holy Month of Shiva for Spiritual, Peace and Harmony” tersebut dijadwalkan berlangsung pada 6 Januari hingga 7 Maret 2027.
Dua agenda utama akan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan, yakni Shivaratri pada Januari dan Mahashivaratri pada Maret 2027.
Promosi festival juga diarahkan ke pasar internasional. Kemenpar bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar India di Indonesia untuk memperluas pemasaran serta memperkenalkan paket perjalanan yang berkaitan dengan festival tersebut.
“Promosi melalui pemasaran ke India sudah dilakukan, kemudian ke Paris, dan bulan depan akan kami bawa ke WTM London. Selain itu, kami juga berkolaborasi dengan Kedutaan Besar India agar jangkauan promosi terkait Prambanan Shiva Festival ini bisa jauh lebih luas,” pungkas Ni Luh.
Melalui agenda ini, pemerintah berharap Prambanan dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata budaya dan spiritual, sekaligus menjaga keterhubungan antara warisan sejarah, kehidupan keagamaan, dan masyarakat luas. (td/mh)
Penulis : Hasan Lintang
Editor : El Farhan
Sumber Berita: barubaruini.com














Komentar