BBI, JAKARTA | Indonesia perlu mencari peluang lebih besar dalam industri semikonduktor dunia agar tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu mengambil peran dalam proses produksi yang menghasilkan nilai ekonomi tinggi.
Peluang tersebut dapat ditempuh dengan memperkuat kerja sama bersama negara yang telah memiliki ekosistem teknologi maju, termasuk Taiwan. Pandangan itu disampaikan Wakil Direktur Bidang Keamanan Ekonomi Research Institute for Democracy, Society, and Emerging Technology (DSET) Taiwan, Chiang Min-yen.
Menurut Chiang, Indonesia memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan industrinya dengan masuk lebih dalam ke jaringan produksi teknologi internasional yang telah terbentuk.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Indonesia dapat mempertimbangkan untuk lebih memperkuat keterhubungannya dengan rantai pasok teknologi dan semikonduktor global yang sudah ada, seiring upayanya untuk masuk ke segmen ekonomi global yang bernilai lebih tinggi,” kata Chiang dalam wawancara tertulis yang dikutip barubaruini.com dari ANTARA di Jakarta, Rabu (14/10).
Salah satu langkah yang dapat dilakukan, kata dia, ialah menyiapkan tenaga kerja dengan kompetensi khusus di bidang semikonduktor. Sektor ini membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti kebutuhan teknis industri sekaligus perkembangan teknologi yang terus bergerak.
Chiang menilai, Indonesia dapat memperluas kesempatan bagi mahasiswa dan insinyur muda untuk menempuh pendidikan maupun mengikuti pelatihan semikonduktor di Taiwan.
Program tersebut bukan hanya berpotensi meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga memberi kesempatan kepada peserta untuk membangun hubungan profesional dengan perguruan tinggi dan pelaku industri di Taiwan.
Dari hubungan itu, peluang kerja sama dapat berkembang lebih jauh. Institusi pendidikan dan perusahaan dari kedua pihak berpotensi membangun kolaborasi yang mendukung pengembangan kemampuan industri Indonesia.
Di luar persoalan tenaga ahli, Chiang juga menyoroti pentingnya memperluas jaringan kemitraan internasional. Menurut dia, Indonesia perlu menjaga hubungan ekonomi dan teknologi dengan beragam mitra agar memiliki pilihan lebih luas dalam mengakses teknologi, modal, dan pasar.
“Memperluas hubungan dengan Taiwan, Jepang, Eropa, Amerika Serikat, dan mitra lainnya dapat membantu Indonesia mempertahankan akses yang lebih luas terhadap teknologi, investasi, dan pasar,” ujarnya.
Diversifikasi kemitraan tersebut menjadi penting ketika pola rantai pasok dunia mengalami perubahan. Negara-negara dituntut tidak hanya meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga membangun ketahanan ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada satu jalur kerja sama.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam ekosistem teknologi internasional dapat menjadi pintu untuk mengembangkan industri yang memiliki nilai tambah lebih besar. Namun, peluang itu perlu ditopang oleh kesiapan tenaga kerja, penguasaan keterampilan teknis, serta hubungan yang kuat antara lembaga pendidikan dan dunia usaha.
Chiang memandang pengembangan talenta dan perluasan hubungan dengan industri sebagai dua unsur penting dalam memperkuat kerja sama Indonesia-Taiwan. Jika keduanya berjalan beriringan, Indonesia berpeluang memperbesar perannya dalam rantai nilai teknologi global sekaligus membangun kemitraan ekonomi yang berkelanjutan. (jk/mh)
Penulis : Achmad Suhalis
Editor : El Farhan
Sumber Berita: barubaruini.com














Komentar