BBI, INTERNASIONAL | Ketegangan di Selat Hormuz kembali mengancam keselamatan pelayaran internasional. Kapal kontainer GFS Pride berbendera Singapura dilaporkan terbakar hingga akhirnya tenggelam setelah menghantam ranjau di perairan strategis tersebut.
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan kapal itu mengalami insiden ketika melintasi jalur yang mereka anggap tidak sah. Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu dan dikutip AFP, Kamis (15/10/2026).
“Sebuah kapal kontainer yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui jalur pelayaran yang tidak sah dan berbahaya, menabrak ranjau yang kemudian meledak,” ungkap angkatan laut Garda Revolusi, Kamis (15/10) petang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rekaman yang dirilis memperlihatkan asap hitam mengepul dari kapal. Sejumlah kontainer juga terlihat terlepas dari badan kapal dan mengapung di permukaan laut setelah insiden tersebut.
Di balik tenggelamnya kapal itu, terdapat kabar yang melegakan. Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA) memastikan seluruh awak berhasil menyelamatkan diri.
“GFS Pride mengalami kerusakan dan kebakaran di atas kapal, yang kemudian menyebabkan kapal tersebut tenggelam,” bunyi pernyataan MPA.
“Seluruh 21 awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat. Tidak ada laporan mengenai korban luka,” tambahnya.
GFS Pride diketahui memiliki kapasitas angkut 2.824 TEU, satuan yang digunakan untuk menghitung kontainer berukuran setara 20 kaki.
MPA menyampaikan keprihatinan atas serangkaian insiden yang terus membahayakan kapal-kapal komersial di kawasan tersebut. Otoritas Singapura itu menilai serangan terhadap kapal sipil tidak bisa dibenarkan.
MPA menyebut serangan tersebut tidak diprovokasi, tidak dapat dibenarkan, dan merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.
Ancaman di Selat Hormuz tidak hanya menimpa GFS Pride. Perusahaan keamanan maritim Inggris, Vanguard, melaporkan tiga kapal lain turut mengalami serangan pada Selasa.
Dua kapal di antaranya tetap meneruskan pelayaran setelah insiden. Sementara itu, kondisi kapal ketiga belum diketahui secara pasti.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga menerima laporan mengenai dua kapal kontainer yang terkena proyektil pada hari yang sama. Meski mengalami kerusakan ringan, kedua kapal tersebut masih dapat melanjutkan perjalanan.
Dalam laporan terpisah, UKMTO mengungkapkan adanya serangan terhadap sebuah kapal tanker dan satu kapal kontainer. Namun, lembaga tersebut tidak memberikan keterangan terperinci mengenai dampak serangan, termasuk kemungkinan kerusakan maupun korban jiwa.
Rangkaian insiden itu memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi pelayaran komersial di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Selain GFS Pride, kapal berbendera Antigua dan Barbuda bernama Cape Dao juga dilaporkan tenggelam di sekitar Selat Hormuz.
Kapal tersebut tenggelam beberapa pekan setelah terkena proyektil pada 23 September. Berbeda dengan insiden GFS Pride, peristiwa yang menimpa Cape Dao menelan korban jiwa.
Sumber maritim menyebut seorang awak kapal meninggal dunia. Awak lainnya berhasil dievakuasi tidak lama setelah serangan berlangsung.
Mengacu pada analisis data kecelakaan Organisasi Maritim Internasional (IMO), GFS Pride dan Cape Dao menjadi kapal kedua dan ketiga yang tenggelam sejak perang antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada 28 Februari.
Konflik tersebut bermula dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Sejak itu, kawasan sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu titik rawan bagi aktivitas pelayaran internasional.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dan barang lintas negara. Gangguan keamanan di kawasan ini berpotensi menghambat arus logistik sekaligus meningkatkan risiko bagi awak kapal yang melintas.
Di tengah situasi tersebut, keselamatan pelaut sipil menjadi persoalan yang kian mendesak, terlebih ketika kapal-kapal komersial ikut terdampak rangkaian serangan di wilayah konflik. (df/mh)
Penulis : Achmad Suhalis
Editor : El Farhan
Sumber Berita: barubaruini.com














Komentar