BBI, SUMENEP | Kabar rencana kepulangan berubah menjadi duka bagi keluarga Moh. Firman Ramadhani. Pemuda berusia 22 tahun asal Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, itu meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Selasa (13/10/2026) pagi.
Kematian Firman menyisakan pertanyaan bagi keluarga. Mereka menuturkan kondisi pasien sebelumnya dilaporkan membaik, tetapi mendadak mengalami muntah-muntah setelah menerima suntikan dari seorang perawat.
Peristiwa tersebut kemudian berlanjut dengan kondisi pasien yang disebut mengalami kejang-kejang serta mengeluarkan busa dari hidung dan mulut. Firman dilaporkan meninggal sekitar pukul 06.00 WIB.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Roni Wahyudi, salah seorang anggota keluarga, mengatakan Firman pertama kali dirawat di RS BHC Sumenep pada Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.
Menurut Roni, pada malam sebelum kejadian, dokter yang menangani pasien menyampaikan bahwa kondisinya menunjukkan perkembangan positif. Keluarga bahkan mendapat informasi bahwa Firman diperkirakan dapat meninggalkan rumah sakit pada Selasa pagi.
“Pada Senin (12/10/2026) malam, dokter yang menangani bilang bahwa kondisi pasien sudah membaik. Bahkan, dipastikan bisa pulang pada Selasa (13/10/2026) pagi,” ujar Roni, Selasa malam.
Keluarga mengaku tidak menyangka kondisi tersebut akan berubah dalam waktu singkat. Firman disebut masih sempat berbincang dengan ayahnya sebelum kondisinya memburuk.
“Melihat kondisi anaknya semakin membaik, ayah pasien pamit untuk pulang menghadiri undangan. Pasien bilang ke ayahnya ‘Iya hati-hati, pak’. Bahkan pagi itu pasien masih main hp,” imbuhnya.
Keluarga Soroti Perubahan Kondisi Setelah Suntikan
Roni menuturkan, kejadian yang dipersoalkan keluarga bermula sekitar pukul 05.00 WIB ketika seorang perawat memberikan suntikan kepada Firman.
Tak lama setelah tindakan tersebut, pasien disebut mengalami muntah-muntah. Pada saat bersamaan, infus yang terpasang dikabarkan mengalami kemacetan dan kemudian dimatikan oleh perawat.
“Setelah disuntik, pasien muntah-muntah. Lalu perawat itu bilang agar diselesaikan dulu muntahnya. Infus saat itu macet, akhirnya dimatikan oleh perawat saat pasien muntah-muntah,” kata Roni.
Ia menyebut perawat kemudian meninggalkan pasien untuk menangani pasien lainnya. Sementara itu, kondisi Firman dikabarkan terus memburuk.
Bibi pasien yang berada di lokasi disebut melihat Firman mengalami kejang-kejang dan mengeluarkan busa. Roni mengatakan, keluarga berusaha meminta bantuan kepada perawat yang menangani pasien, tetapi panggilan tersebut diklaim tidak mendapat respons.
“Melihat kondisi D kejang-kejang dan mengeluarkan busa, bibi D memanggil perawat yang menangani untuk menginformasikan kondisi yang dialami korban Namun karena tidak direspons, bibi D kembali ke kamar,” tuturnya.
Roni juga menggambarkan adanya perubahan warna pada wajah dan bibir pasien sebelum meninggal. Ia menyebut busa keluar dari hidung dan mulut Firman, disertai kejang-kejang.
“Bisa uang keluar dari hidung kanan berwarna merah dan yang kiri hitam. Muka dan bibirnya menghitam, matanya melotot dan kejang-kejang lalu meninggal sekitar pukul 06.00 WIB,” bebernya.
Dugaan Keluarga Membutuhkan Pemeriksaan Medis
Setelah Firman meninggal, keluarga mendatangi ruang perawat untuk meminta penjelasan mengenai tindakan yang dilakukan sebelum kondisi pasien memburuk.
Mereka mempertanyakan perubahan kondisi yang terjadi setelah pemberian suntikan, mengingat sebelumnya pasien disebut masih mampu berkomunikasi dan telah mendapat kabar mengenai rencana kepulangan.
“Kami tanyakan ke perawat ‘Kenapa pasien yang semalam sudah dipastikan hari ini pulang setelah disuntik malah meninggal’. Padahal sebelum disuntik, D masih main HP dan kemungkinan akan segera sembuh,” ungkap Roni.
Keluarga menduga kematian Firman mungkin berkaitan dengan obat yang diberikan. Mereka juga mempertanyakan apakah kondisi pasien diperiksa kembali sebelum tindakan tersebut dilakukan.
“Kami menduga D mengalami keracunan atau overdosis akibat obat yang disuntikkan perawat. Karena, setelah komunikasi dengan beberapa orang dengan melihat gejala yang dialami D sebelum meninggal, kemungkinan keracunan obat,” paparnya.
Meski demikian, dugaan keracunan maupun overdosis tersebut belum dapat dipastikan. Hubungan antara pemberian obat dan kematian pasien memerlukan pemeriksaan medis yang memadai, termasuk penelusuran rekam medis, jenis obat, dosis, serta kronologi penanganan.
Demikian pula dugaan kelalaian yang disampaikan keluarga belum dapat dinyatakan terbukti tanpa pemeriksaan terhadap tindakan petugas dan prosedur yang berlaku.
Konfirmasi kepada Direktur Belum Mendapat Jawaban
Di tengah pertanyaan yang disampaikan keluarga, penjelasan dari pihak rumah sakit menjadi penting untuk memperjelas kejadian tersebut.
Redaksi barubaruini.com telah berupaya menghubungi Direktur RS BHC Sumenep, dr. Tedjo Wahyu Putranto, melalui WhatsApp pada Rabu. Pesan konfirmasi dikirim beberapa kali, tetapi belum memperoleh tanggapan hingga berita ini disusun, begitupun Manager Humas dan Marketing RS BHC Sumenep, Sandra Rahestri, tidak menjawab.
Belum adanya respons tersebut membuat redaksi belum mendapatkan keterangan langsung dari direktur mengenai kronologi penanganan Firman maupun langkah yang akan dilakukan manajemen untuk menelusuri persoalan itu.
Keluarga masih mempertanyakan apa yang terjadi pada Firman sebelum meninggal dunia. Sementara itu, publik membutuhkan penjelasan yang utuh agar penyebab kejadian tidak hanya didasarkan pada dugaan ataupun informasi yang beredar di media sosial.
barubaruini.com tetap membuka ruang bagi pihak RS BHC Sumenep untuk memberikan klarifikasi, termasuk menjelaskan tindakan medis yang diberikan kepada pasien dan hasil penelusuran internal apabila telah dilakukan.
Hingga berita ini diterbitkan, penyebab pasti kematian Firman serta ada atau tidaknya pelanggaran prosedur dalam penanganannya belum dapat dipastikan. (ef/mh)
Penulis : Hasan Lintang
Editor : El Farhan
Sumber Berita: barubaruini.com














Komentar