Keluarga Firman Uji Tanggung Jawab BHC Sumenep jika Ditemukan Kesalahan Medis

Keluarga Firman mempertanyakan tanggung jawab BHC Sumenep jika investigasi menemukan kesalahan medis. Rumah sakit menyebut pemeriksaan internal belum selesai.

- Penulis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:06 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MEGAH. Potret RS BHC Sumenep yang berlokasi di Jalan Jokotole, Lingkar Barat, Babbalan, Kecamatan Batuan. (Istimewa/Redaksi BBI/Sumenep)

MEGAH. Potret RS BHC Sumenep yang berlokasi di Jalan Jokotole, Lingkar Barat, Babbalan, Kecamatan Batuan. (Istimewa/Redaksi BBI/Sumenep)

BBI, SUMENEP | Pertanyaan mengenai pertanggungjawaban rumah sakit menjadi salah satu poin yang disorot keluarga Moh. Firman Ramadhani alias Deni dalam pertemuan dengan manajemen RS Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Keluarga ingin mengetahui langkah yang akan diambil apabila investigasi internal menemukan kesalahan dalam penanganan pasien berusia 22 tahun tersebut.

Perwakilan keluarga berinisial Y mengatakan, pertanyaan itu disampaikan saat perwakilan BHC mendatangi rumah duka di Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Jumat (16/10/2026).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam pertemuan tersebut, keluarga meminta kepastian mengenai sikap rumah sakit jika ditemukan kekeliruan yang berkaitan dengan kematian Firman.

“Terus salah seorang keluarga kami tanya ‘Apakah dari pihak BHC siap untuk mengaku salah dalam kejadian ini?’ dan mereka tidak bisa menjawab. Mereka hanya bilang ‘Ini setelah investigasi internal akan memberikan penjelasan resmi kepada keluarga’,” kata Y, Jumat (16/10/2026).

Menurut Y, keluarga juga mempertanyakan kemungkinan adanya keterlibatan dokter atau perawat yang menangani Firman sebelum meninggal dunia di RS BHC pada Selasa (13/10/2026).

BACA JUGA  Kurang dari 24 Jam, Jabatan Kapolresta Sleman Kembali Beralih

Keluarga, kata dia, mendapat jawaban bahwa persoalan tersebut akan ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Namun, belum ada penjelasan mengenai hasil pemeriksaan internal yang dapat menerangkan apa yang sebenarnya terjadi.

“Jawaban mereka, ‘Tentunya kami akan proses secara hukum sesuai perundang-undangan yang ada’. Keluarga kami juga tanya ‘Bagaimana bila misalnya kematian Deni akibat dokter dan perawat yang menangani?’ Jawaban mereka, ‘Kami akan tetap proses sesuai perundang-undangan yang berlaku’,” ujarnya.

Bagi keluarga, persoalan utama bukan sekadar permintaan maaf, melainkan kejelasan atas penanganan medis yang diterima Firman. Pemuda asal Lenteng Timur itu sebelumnya dilaporkan mengalami kejang dan mengeluarkan busa dari mulut serta hidung ketika dirawat di rumah sakit tersebut.

Peristiwa itu menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab kondisi Firman memburuk hingga akhirnya meninggal dunia. Meski demikian, belum ada hasil pemeriksaan medis yang dipublikasikan untuk memastikan penyebab kematian maupun membuktikan ada atau tidaknya kesalahan dalam pelayanan.

BACA JUGA  Sampah Bambu Disulap Jadi Instalasi Seni Bawah Laut di Pulau Panggang

Manajemen BHC belum menyampaikan hasil investigasi yang dapat menjawab pertanyaan keluarga. Dalam kunjungan ke rumah duka pada Jumat pagi sekitar pukul 09.00 WIB, pihak rumah sakit menyatakan pemeriksaan internal masih berlangsung.

“Mereka belum bisa menjawab. Kata mereka investigasinya belum selesai,” ujar Y.

Pihak rumah sakit yang hadir diwakili Manajer Humas dan Marketing Sandra Rahestri bersama seorang rekannya. Mereka menyampaikan belasungkawa dan meminta maaf atas meninggalnya Firman, sekaligus membawa sejumlah bahan kebutuhan pokok untuk keluarga.

“Kedatangan pihak BHC untuk takziah dan menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Firman. Kemudian, mereka meminta maaf atas meninggalnya Firman di RS BHC,” kata Y.

“Mereka ke sini membawa beras, minyak goreng dan mi instan sebagaimana orang takziah atau melayat,” imbuhnya.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep belum memberikan penjelasan khusus mengenai kasus tersebut.

Kepala Dinkes P2KB Sumenep, Ellya Fardasah mengatakan, pihaknya masih perlu memastikan informasi yang diterima sebelum menyampaikan tanggapan lebih lanjut.

BACA JUGA  Ramadan: A Month of Spiritual Reflection, Devotion, and Charity

“Kami masih mau memastikan dulu ke teman-teman di dinas. Mohon maaf belum bisa berkomentar banyak,” ujarnya.

Ellya menambahkan, pengawasan dan evaluasi dilakukan terhadap seluruh rumah sakit serta puskesmas, bukan hanya satu fasilitas pelayanan kesehatan.

“Kalau kami tidak hanya fokus kepada satu rumah sakit, melainkan ke semua rumah sakit dan Puskesmas, pasti melakukan monitoring dan evaluasi,” katanya.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Sandra Rahestri belum mendapatkan jawaban. Media ini telah mengirimkan pesan melalui WhatsApp pada Jumat (16/10/2026) pukul 09.28 WIB, 09.29 WIB, 12.57 WIB, dan 13.42 WIB.

Awak media juga mendatangi RS BHC sekitar pukul 10.00 WIB untuk meminta keterangan langsung. Namun, petugas keamanan tidak mengizinkan pertemuan dengan Sandra dengan alasan belum ada janji.

Hingga berita ini disusun, hasil investigasi internal belum disampaikan kepada publik. Penyebab kematian Firman dan kemungkinan adanya kesalahan dalam penanganan medis masih menunggu penjelasan resmi dari pihak terkait. (ef/mh)

Penulis : Achmad Suhalis

Editor : El Farhan

Sumber Berita: barubaruini.com

Follow WhatsApp Channel barubaruini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nyawa Pasien Hilang, Penjelasan Direktur RS BHC dan Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ikut Hilang
Karangan Bunga untuk Bupati Klaten Tersangka OTT KPK, Warga Mengaku Terkejut
MH Said Abdullah Panggil Manajemen RS BHC, Kematian Pasien BPJS Belum Terjawab
Dinkes P2KB Sumenep Belum Buka Hasil Tindak Lanjut Kasus Pasien BPJS Meninggal di RS BHC
Pasien BPJS Meninggal di BHC Sumenep, Kapan Hasil Investigasi Dibuka?
Ribuan Warga Hadiri JJS Politik Sumenep, Mayoritas Anggota DPRD Absen
IPNU Sumenep Desak Pengawasan Kades Diperketat Usai Dua Pejabat Desa Ditangkap
Menakar Beban Moral MH Said Abdullah dalam Kasus Kematian Pasien BHC Sumenep

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:10 WIB

Nyawa Pasien Hilang, Penjelasan Direktur RS BHC dan Kepala Dinkes P2KB Sumenep Ikut Hilang

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:42 WIB

MH Said Abdullah Panggil Manajemen RS BHC, Kematian Pasien BPJS Belum Terjawab

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:23 WIB

Dinkes P2KB Sumenep Belum Buka Hasil Tindak Lanjut Kasus Pasien BPJS Meninggal di RS BHC

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:39 WIB

Pasien BPJS Meninggal di BHC Sumenep, Kapan Hasil Investigasi Dibuka?

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:04 WIB

Ribuan Warga Hadiri JJS Politik Sumenep, Mayoritas Anggota DPRD Absen

Berita Terbaru

PROFIL. Helen Haines, anggota parlemen independen Australia yang mewakili daerah pemilihan Indi di Victoria. Mantan perawat dan peneliti kesehatan masyarakat ini dikenal memperjuangkan integritas politik serta pembentukan lembaga antikorupsi nasional. (Istimewa/Redaksi BBI/Australia)

Internasional

Helen Haines Ditabrak Mobil, PM Australia Duga Serangan Sengaja

Selasa, 20 Okt 2026 - 09:08 WIB

PROFIL. Anggota Komisi VIII DPR, Maman Imanulhaq, mendesak pemerintah Azerbaijan mencabut larangan jilbab dan menghormati kebebasan perempuan Muslim dalam menjalankan keyakinan agamanya. (Istimewa/Redaksi BBI/Jakarta)

Pendidikan

Maman Imanulhaq Desak Azerbaijan Cabut Larangan Jilbab

Selasa, 20 Okt 2026 - 05:33 WIB